DI BALIK TEMBOK CIPINANG, RAMADAN MENYALA: 30 HARI, 30 KHATAM, 1 TEKAD PERUBAHAN

Jakarta – Ramadan 1447 Hijriah menghadirkan suasana berbeda di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang. Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, gema ayat suci Al-Qur’an justru terdengar semakin lantang. Bagi para warga binaan, bulan suci tahun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum kebangkitan spiritual.

Sejak malam pertama Ramadan, salat tarawih langsung digelar berjamaah. Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Wachid Wibowo, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan menjadi fokus utama selama bulan suci.

“Malam pertama kami langsung melaksanakan tarawih. Antusiasme warga binaan luar biasa. Bahkan setelah tarawih, mereka melanjutkan dengan tadarus,” ujarnya.

Masjid lapas pun menjadi pusat denyut kehidupan Ramadan. Setiap malam, warga binaan berbaris rapi, mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk. Tidak ada paksaan, yang ada adalah kesadaran. Tidak ada formalitas, yang tampak justru kesungguhan.

Yang membuat Ramadan kali ini semakin istimewa adalah target besar yang dicanangkan pihak lapas: satu hari satu khatam Al-Qur’an.

Target itu bukan sekadar wacana. Hingga hari kelima Ramadan, empat kali khatam telah tercapai. Artinya, langkah menuju 30 kali khatam dalam 30 hari berjalan sesuai rencana.

“Kami berharap 30 hari Ramadan bisa 30 kali khatam. Hari ini sudah hari kelima dan sudah empat kali khatam. Insyaallah bisa tuntas sampai akhir,” kata Wachid optimistis.

Program ini menjadi simbol bahwa pembinaan tidak berhenti pada aspek kedisiplinan dan keterampilan, tetapi juga menyentuh dimensi terdalam manusia: hati dan iman. Di dalam lapas, Ramadan menjadi ruang perenungan, tempat menata kembali niat, dan membangun tekad untuk memperbaiki diri.

Bulan suci ini membuktikan satu hal: tembok tinggi mungkin membatasi gerak, tetapi tidak pernah mampu membatasi cahaya iman. Di Cipinang, Ramadan bukan hanya dirayakan ia dihidupkan. (Mulyani)