Rakyat Menang! Jalan Poros Desa Suci–Kembangan Kembali Bisa Dimanfaatkan Masyarakat Umum

GRESIK , siliwangipost1,com – Semangat kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026 diwarnai momentum penting bagi masyarakat Desa Suci dan Kembangan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Jalan poros Desa Suci–Kembangan yang sebelumnya mengalami perubahan akses kini telah menjadi jalan umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Momentum tersebut ditandai dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di kawasan Jalan Poros Suci–Kembangan, Senin (17/8/2026).

Kegiatan diawali dengan pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Suasana peringatan kemerdekaan semakin bermakna karena lokasi kegiatan berkaitan langsung dengan perjuangan masyarakat mempertahankan dan mengembalikan akses jalan yang selama ini menjadi kepentingan publik.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Gus Farhat menyampaikan rasa syukur karena masyarakat masih diberi kesempatan memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia sekaligus mengenang jasa para pahlawan.

Menurutnya, kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan tanggung jawab generasi penerus untuk menjaga warisan perjuangan para pendahulu, termasuk menjaga lingkungan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Seremoni itu penting, tetapi bukan yang terpenting. Kemerdekaan yang kita peringati bukan berarti kita kemudian leha-leha atau santai-santai. Sebagai generasi penerus perjuangan para pendahulu, kita harus mengisinya dengan terus mencintai Indonesia,” tegasnya dalam sambutan.

Gus Farhat juga menyinggung sejarah kawasan Gunung Ringgit atau yang kemudian dikenal sebagai Gunung Sosok. Kawasan tersebut, kata dia, dahulu menjadi bagian dari akses jalan yang menghubungkan Desa Suci dan Desa Kembangan, sekaligus menjadi jalur penghubung wilayah Kecamatan Manyar dengan Kecamatan Kebomas.

Ia menjelaskan, perubahan akses jalan terjadi seiring aktivitas eksploitasi kawasan tersebut. Setelah aktivitas eksploitasi berakhir sekitar 1997 dan kawasan memasuki masa pascatambang, muncul perjuangan masyarakat untuk memastikan kawasan beserta aksesnya dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.

‎“Ini bukan aset semen. Bahkan dalam audiensi sebelumnya, pihak semen menyatakan bahwa Gunung Ringgit yang dikuasai semen merupakan aset Desa Suci,” ujarnya.

Gus Farhat menyebut perjuangan tersebut telah dilakukan sejak 2007 melalui berbagai aksi dan komunikasi di Desa Suci maupun Kembangan. Tujuannya agar potensi sumber daya dan kekayaan desa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat serta mendukung pembangunan desa sesuai ketentuan yang berlaku.

“Perjuangan ini untuk kembali kepada tanah negara yang notabene pemerintahan terkecil adalah desa. Kita upayakan agar potensi sumber daya alam dan kekayaan Desa Suci bisa dimaksimalkan untuk masyarakat dan pembangunan desa,” katanya.

Ia menegaskan bahwa semangat kemerdekaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk menjaga lingkungan.

Menurutnya, mencintai tanah air berarti tidak membiarkan lingkungan mengalami kerusakan, baik dari sisi ekologi, sosial maupun budaya.

“Ketika kita mencintai tanah air, kita tidak akan pernah membiarkan tanah air ini rusak, baik secara ekologi, sosial maupun budayanya,” tuturnya.

‎Gus Farhat , selaku Inspektur Upacara ,juga memberikan apresiasi kepada berbagai elemen masyarakat yang selama ini ikut mendukung perjuangan tersebut, di antaranya masyarakat Klaras, Ansor, PSHT, PSHT Mataram serta elemen masyarakat lainnya.Ia menutup sambutannya dengan pesan bahwa perjuangan membangun dan menjaga bangsa belum selesai.

‎“Perjuangan masing-masing dari kita selesai ketika kita menutup mata. Itulah arti perjuangan yang sesungguhnya,” tegasnya.

‎Sementara itu, Ali Candi dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan 17 Agustus tahun ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat. Menurutnya, kemerdekaan harus dimaknai sebagai kesempatan bagi rakyat untuk memperoleh manfaat nyata atas ruang dan sumber daya yang menjadi kepentingan bersama.

Momentum dibukanya kembali akses Jalan Poros Suci–Kembangan bagi masyarakat umum pun dinilai menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tidak berhenti pada pengibaran bendera dan seremoni, tetapi diwujudkan melalui perjuangan untuk kepentingan rakyat.

Peringatan HUT ke-81 RI di Jalan Poros Suci–Kembangan akhirnya menjadi simbol kuat tentang semangat masyarakat dalam menjaga akses publik, lingkungan, serta memperjuangkan pemanfaatan potensi wilayah untuk kesejahteraan bersama.
Rakyat menang bukan sekadar karena jalan kembali terbuka, tetapi karena semangat kebersamaan dan perjuangan untuk kepentingan masyarakat terus dijaga.

‎Penulis. ; HDK
‎Editor.   ; Redaksi