JAKARTA — Siliwangipost.com, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang terus memperkuat kualitas pendidikan bagi Warga Binaan melalui peningkatan kapasitas tenaga pengajar. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) Calon Tutor PKBM Warga Mandiri bersama Sekolah Erudio Indonesia, Rabu (16/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid tersebut menjadi awal dari program pendampingan selama satu bulan. Program ini dirancang untuk mempersiapkan calon tutor agar tidak hanya memiliki kemampuan dalam menyampaikan materi, tetapi juga mampu memahami karakter, kebutuhan, serta latar belakang peserta didik.
Mewakili Kepala Lapas Kelas I Cipinang Dr. Syarpani, Kepala Bidang Pembinaan Bambang Setiawan mengatakan, penguatan kapasitas tutor merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas sekaligus keberlanjutan pendidikan di PKBM Warga Mandiri.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar kemampuan mengajar. Tutor harus memahami karakter dan kebutuhan peserta, mampu membangun komunikasi, serta menciptakan ruang belajar yang membuat Warga Binaan mau terlibat dan terus berkembang,” ujarnya.
ToT menghadirkan praktisi pendidikan sekaligus Kepala Sekolah SMA Marsudirini Muntilan, Ignatia Rini Purwati, S.Pd., M.M. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa keterbatasan bukan menjadi alasan untuk menghentikan proses pendidikan.
Menurut Rini, seorang tutor perlu memiliki kemauan untuk terus belajar, menemukan pendekatan yang sesuai, serta mencari solusi terhadap berbagai tantangan yang muncul dalam proses pembelajaran.
“Tutor harus siap belajar bersama, menemukan cara dan solusi, serta menciptakan pembelajaran yang bermakna. ToT ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk belajar bersama dan menemukan solusi atas berbagai tantangan pembelajaran di Lapas,” ungkapnya.
Pendekatan pembelajaran tersebut mulai diterapkan sejak sesi awal. Monika Irayati dari Sekolah Erudio Indonesia mengajak para calon tutor mendiskusikan pertanyaan mendasar mengenai makna belajar dan alasan seseorang perlu belajar.
Diskusi tersebut mendorong peserta memahami bahwa belajar tidak hanya berkaitan dengan menerima materi, tetapi juga merupakan proses menemukan perspektif baru, menjawab kebutuhan, serta melakukan perubahan dan pengembangan diri.

Salah satu calon tutor, Boby Hendrica, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai peran seorang tutor. Menurutnya, keberagaman usia, pengalaman, dan kebutuhan Warga Binaan membuat proses pembelajaran membutuhkan pendekatan yang berbeda.
“Kami belajar bahwa menjadi tutor bukan hanya soal bisa menyampaikan materi. Kami harus memahami siapa yang belajar dan apa yang mereka butuhkan. Setiap orang punya pengalaman, usia, dan tujuan yang berbeda, jadi cara belajarnya juga perlu disesuaikan agar benar-benar bermanfaat,” ungkap Boby.
Para calon tutor yang mengikuti program tersebut memiliki latar belakang dan minat yang beragam, mulai dari entrepreneurship, parenting, teknologi informasi, web development, sains, matematika hingga public speaking.
Selama satu bulan ke depan, Sekolah Erudio Indonesia bersama pengelola PKBM Warga Mandiri dan para calon tutor akan melanjutkan proses pendampingan. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan Warga Binaan.
Melalui penguatan kapasitas tutor, Lapas Kelas I Cipinang mendorong PKBM Warga Mandiri tidak hanya menjadi tempat memperoleh pendidikan kesetaraan, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar yang aktif, relevan, dan berkelanjutan.
Ruang tersebut diharapkan dapat menjadi wadah bagi Warga Binaan untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan potensi, sekaligus berbagi kemampuan dan memberikan manfaat kepada sesama.(sta)
Jakarta, 16 September 2026
Tim Komunikasi Publik






