BOGOR | SILIWANGIPOST – Sebuah lembaga independen bernama Komando Satuan Khusus – Batalyon Serba Guna Siliwangi (KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI) tengah mempersiapkan deklarasi pendirian dengan mengusung semangat persatuan rakyat lintas generasi, pelestarian budaya Sunda, serta penguatan kedaulatan wilayah dan bangsa.
Lembaga yang dirancang berkedudukan di Bogor, Jawa Barat, tersebut digagas sebagai wadah untuk menghimpun kekuatan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap sejarah, adat istiadat, budaya, serta warisan leluhur Tanah Pasundan.
Berdasarkan naskah induk deklarasi yang ditetapkan di Bogor pada 10 November 2026, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI membawa konsep organisasi independen, nonpolitik praktis, serta mengedepankan semangat kekeluargaan dan gotong royong.
H.E. Anggit Purnomo Adhy disebut sebagai penggagas sekaligus calon Kepala Pimpinan Nasional (KAPINNAS) dalam struktur organisasi tersebut.
Mengangkat Filosofi Maung Siliwangi
Identitas organisasi ini dibangun melalui filosofi yang terkandung dalam lambang atau logo KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI.
Salah satu simbol utamanya adalah Maung Siliwangi atau harimau emas yang ditempatkan di bagian tengah. Simbol tersebut dimaknai sebagai representasi keberanian, kewaspadaan, kekuatan, serta semangat menjaga warisan budaya dan sejarah Pajajaran.
Sementara itu, lambang Garuda emas dengan satu bintang di bagian atas menggambarkan semangat kebangsaan, kemerdekaan, serta komitmen terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa dan Pancasila.
Sebanyak 12 bintang yang mengelilingi lambang utama dimaknai sebagai simbol perjalanan waktu, 12 bulan dalam kalender Sunda, serta pilar-pilar peradaban.
Adapun padi emas dan padi putih perak melambangkan kesejahteraan, kedaulatan pangan, kesucian, persaudaraan, dan pelestarian adat istiadat.
Melalui filosofi tersebut, organisasi ini ingin menegaskan bahwa kekuatan masyarakat harus dibangun dengan keseimbangan antara keberanian, ilmu pengetahuan, budaya, dan kesejahteraan.

Bogor Dipilih sebagai Pusat Komando Nasional
Pemilihan Bogor sebagai Pusat Komando Nasional bukan tanpa alasan. Wilayah ini dinilai memiliki keterkaitan historis dan kebudayaan yang kuat dengan perjalanan peradaban Sunda.
Keberadaan Prasasti Batutulis yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Pajajaran menjadi salah satu landasan historis yang diangkat dalam deklarasi tersebut.
Selain itu, kawasan Bogor dan wilayah Jawa Barat juga memiliki sejumlah peninggalan sejarah serta situs budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Sunda.
Organisasi ini juga membawa semangat persatuan berbagai garis keturunan dan komunitas adat yang dikaitkan dengan Galuh, Pajajaran, Sumedang Larang, Cirebon, Banten, dan Cianjur.

Melalui konsep tersebut, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI berharap dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi untuk menghubungkan para sesepuh, tokoh adat, budayawan, akademisi, hingga generasi muda.
Bukan Organisasi Militer atau Paramiliter
Dalam naskah deklarasinya, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI secara tegas menyatakan diri sebagai lembaga sipil kemasyarakatan yang bergerak di bidang kecintaan terhadap budaya dan bela negara nonmiliter.
Organisasi ini menegaskan bahwa keberadaannya bukan organisasi militer, bukan paramiliter, dan bukan organisasi masyarakat yang mengedepankan tindakan anarkis.
Penggunaan nama komando, batalyon, serta atribut berupa seragam dan baret disebut sebagai identitas organisasi dan simbol kebesaran budaya.
Dengan demikian, seluruh kegiatan organisasi diarahkan pada aktivitas sosial, kebudayaan, pendidikan, kemanusiaan, serta penguatan semangat kebangsaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Usung Lima Misi Utama
Dalam mewujudkan visi besar menuju Indonesia Emas 2045, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI menetapkan lima misi utama yang disebut sebagai Panca Dharma Cakti.
Pertama, menghimpun berbagai trah dan keturunan keluarga besar Ranah Pasundan dalam satu wadah persaudaraan.
Kedua, mengkaji dan mengembangkan kembali ilmu pengetahuan, aksara Sunda kuno, sejarah Pajajaran, serta pengetahuan leluhur.
Ketiga, menjaga dan melestarikan situs sejarah, makam leluhur, sumber mata air, serta tanah adat yang memiliki nilai budaya.
Keempat, membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan sektor pangan, air, energi, dan aset produktif.
Kelima, membina generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, melalui pendidikan karakter, kedisiplinan, kecintaan terhadap budaya, serta bela negara non militer.
Organisasi ini mengusung motto “SATYANA – PRAJNA – WIBAWA – SILIWANGI JAYA”, yang dimaknai sebagai kesetiaan, kebijaksanaan ilmu pengetahuan, kewibawaan, dan kejayaan Siliwangi.
Terapkan Satu Garis Komando
Dari sisi kelembagaan, organisasi ini merancang struktur kepemimpinan dengan sistem satu garis komando.
Pada tingkat tertinggi terdapat Kepala Pimpinan Nasional (KAPINNAS), yang dirancang menjadi pengendali utama organisasi.
Selanjutnya terdapat Dewan Agung yang terdiri dari para sesepuh dan perwakilan garis keturunan Ranah Pasundan sebagai penasihat tertinggi.
Pusat operasional organisasi direncanakan berada di Markas Besar Nasional (MABERNAS) Bogor, dengan lima bidang deputi yang menangani operasional dan tanggap darurat, adat dan budaya, kedaulatan pangan dan aset, kaderisasi, serta bidang hukum, hubungan masyarakat, dan kemitraan strategis.
Struktur organisasi juga direncanakan berkembang hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa adat.
Target Bangun Aset Produktif dan Kemandirian Ekonomi
Tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI juga merancang program kemandirian ekonomi melalui pengembangan aset produktif.
Pada tahap awal 2026–2027, organisasi menargetkan konsolidasi kelembagaan, deklarasi akbar di Bogor, pendataan 1.000 anggota inti lintas generasi, pengesahan AD/ART, serta pembangunan Gedung Putih KOSATSUS sebagai markas organisasi.
Memasuki periode 2027–2029, organisasi menargetkan pembangunan tiga aset produktif utama, yakni Lumbung Pangan Abadi Pasundan, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Budaya serta Bela Negara Pasundan, dan Koperasi Serba Usaha Siliwangi.
Sementara itu, untuk periode 2030–2036, organisasi menargetkan pembentukan 34 markas daerah di seluruh Indonesia serta pengembangan dana abadi hingga Rp100 miliar.
Adapun visi jangka panjang pada 2045 adalah membangun lembaga masyarakat yang kuat dengan target dana abadi mencapai Rp1 triliun.
Target tersebut merupakan rencana jangka panjang organisasi yang membutuhkan pengelolaan profesional, transparansi, serta dukungan berbagai pihak.
Tegaskan Sumber Pendanaan Mandiri
Dalam hal pembiayaan, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI menyatakan komitmennya untuk membangun organisasi secara mandiri tanpa menggunakan dana APBN maupun APBD.
Sumber pendanaan direncanakan berasal dari pengelolaan aset produktif, seperti lahan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, properti, serta kegiatan koperasi dan distribusi.
Selain itu, pendanaan juga direncanakan berasal dari iuran sukarela anggota, wakaf produktif, serta hibah atau program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang tidak mengikat.
Untuk menjaga akuntabilitas, organisasi merancang sistem pembagian hasil dengan alokasi 60 persen untuk operasional dan pembinaan anggota, 30 persen untuk penguatan dana abadi, serta 10 persen untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Pengelolaan keuangan juga direncanakan menjalani audit tahunan oleh akuntan publik independen dan dilaporkan secara terbuka dalam Musyawarah Agung.
Harapkan Dukungan Pemerintah, Tokoh Adat, dan Masyarakat
Melalui deklarasi pendirian ini, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI berharap memperoleh doa, restu, serta dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, TNI-Polri, para raja dan sultan, sesepuh adat, ulama, akademisi, budayawan, serta seluruh elemen masyarakat.
Organisasi tersebut menilai pelestarian budaya dan sejarah tidak dapat dilakukan hanya oleh satu kelompok, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh generasi.
Dengan mengedepankan semangat persaudaraan dan gotong royong, KOSATSUS–YONSERNA SILIWANGI ingin menjadikan warisan leluhur sebagai kekuatan untuk membangun masa depan.
Sebagaimana pesan yang diusung dalam deklarasinya, organisasi ini menegaskan bahwa keberadaannya bukan untuk berhadapan dengan negara, melainkan menjadi bagian dari masyarakat yang turut menjaga persatuan, budaya, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Demi Pasundan, Demi Indonesia.”






