KBB – Siliwangi Post,- Merespon berita soal ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang dipasung di Rancapanggung, Pj. Bupati Bandung Barat, Ade Zakir Hasim mengatakan bahwa sebelumnya sudah pernah ditangani oleh Petugas Kesehatan Jiwa Puskesmas setempat. Namun saat pengobatan terputus dan akan dikoordinasikan lagi, dengan pihak keluarga tidak merespon.
“Pj Keswa Puskesmas Mukapayung sudah kordinasi dengan pihak keluarga perihal putus obat namun tidak ada respon positif dari keluarga sehingga pasien loss follow up,” kata Ade Zakir, Rabu (20/11).
Ade sendiri sudah mendapat laporan soal kondisi pasien terpasung yang dirantai kakinya dan ditempatkan di gubuk kayu terpisah beberapa meter dari rumah utama. Ade pun mengatakan bahwa Enung (penderita gangguan jiwa yang dipasung) diurus sehari-hari oleh ibunya yang sudah dalam kondisi renta dan tunarungu.
“Pasien sudah pernah dipasung dan dibebaskan sebelumnya awal 2024. Kondisi pasien sempat stabil minum obat rutin dan beberapa bulan sudah beraktifitas normal di rumah,” jelas Ade Zakir.
“Kemudian setelah itu pasien putus obat dengan alasan tidak ada yang mengurus untuk kontrol dari pihak keluarga, sehingga pasien kembali kambuh dan dipasung kembali sekitar 1 tahun,” imbuhnya.
Pj Bupati KBB, lebih jauh menuturkan, bahwa saat ini keluarga sudah diadvokasi, agar pasien diikutkan program pembebasan pasung bekerjasama dengan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jabar, dan Dinsos KBB.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang perempuan, Enung Supriatin (36), warga Kp. Pasir Panjang RT 007, RW 02 Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, telah lama harus hidup dalam pasungan dan dikerangkeng bambu, karena keluarga tidak sanggup merawat.
Enung sehari hari tinggal dalam sebuah ruangan berdinding bambu. Ia terduduk dalam pasungan dalam bale-bale yang terbuat dari bambu. Keluarga mengaku bukan tak mau memberi alas yang layak, semisal matras atau kasur. Karena sering dirusak, oleh karenanya Enung dibiarkan berada di bale-bale tanpa alas apapun.
Dari penuturan warga sekitar, Enung menderita gangguan jiwa sejak tujuh tahun lalu. Kondisi pemasungan baru berajalan tiga tahun, semenjak perempuan kelahiran tahun 1988 itu sering tidak terkontrol emosinya.
Warga juga mengatakan bahwa pihak keluarga pernah menitipkan pada Rumah Sakit Jiwa, namun entah kenapa Enung kembali ke rumah, bersama ibunya, Erah, yang sudah berusia lanjut.
Erah diakui warga merawat putrinya sendirian. Suaminya, Emuk Aim, telah lama meninggal dunia.
Mendapat laporan warga, Relawan Sahabat Misbah untuk ODGJ, Haji Misbah, akan memberikan bantuan untuk perawatan yang layak pada Enung. Hal itu disampaikan Misbah, Selasa (19/11).
Misbah sebenarnya akan mengaevakuasi korban Selasa sore, namun karena cuaca tidak mendukung, maka upaya evakuasi akan dilakukan hari ini, Rabu (20/11).
”Kami harus koordinasi dulu dengan RT dan RW setempat. Memang biasa kalau di Bandung Barat kami sering menangani ODGJ, ini kami kecolongan karena baru tahu kondisi pasien. Kasian, dia dipasung,” kata Misbah.
Misbah sendiri Selasa siang sudah mengunjungi korban dan keluarganya. Ia mengaku, ibu pasien sudah menyetujui agar putrinya bisa dirawat.
”Insya Allah kami siap memberikan bantuan perawatan. Mudah-mudahan saja ikhtiar ini bisa diberi kemudahan,” kata Misbah di lokasi.
Misbah mengatakan setelah berkoordinasi dengan aparat kewilayahan, akan membawa Enung untuk dirawat di RSJ Cisarua.
Sementara itu warga yang sering diminta bantu keluarga Enung, Ira Octavia mengatakan bahwa Enung, menurut pengakuan keluarga menderita gangguan jiwa setelah pulang dari Jakarta. Namun ia tidak mengetahui penyebab utamanya.
”Dari pihak keluarga hanya mengatakan bahwa dia teh dibawa pamannya ke Jakarta, hanya saja katanya setelah berada di sana, di Tangerang, tiba-tiba kalau bahasa sundanya mah ngegerebeg dan saat dibawa pulang langsung ngamuk,” jelas Ira.
”Dulu waktu masih sehat, sering saya minta untuk bantu-bantu di rumah. Ia sering curhat katanya gak disayang sama keluarga. Dengan saya cukup dekat. Malah waktu pertama sakit dan ngamuk saya diminta membujuknya,” kata Ira lirih.
Ira sendiri mengatakan bahwa Enung sempat menikah, namun kemudian bercerai. Ira mengatakan bahwa dalam pernikahannya Enung sering mengamuk karena Enung mengaku terpaksa melakukan pernikahan dan tidak didasari oleh cinta.
Semenjak bercerai itu lah kondisi kejiwaannya semakin memburuk. Meski demikian, Ira mengaku bahwa Enung masih bisa bercerita normal kepada dirinya.
Ira sendiri mengaku, ia cukup senang dengan langkah Haji Misbah yang membantu keluarga Erah untuk mengevakuasi Enung agar mendapat perawatan yang layak. Ia berharap agar kondisi Enung bisa membaik setelah menjalani perawatan nanti.
”Betul, rencananya akan dijemput untuk dirawat. Ibunya juga sudah ikhlas. Keluarga dan kami sebagai warga terdekat juga ikut mendoakan agar kondisi Enung bisa membaik,” kata Ira.
Ibu Erah sendiri merasa bahagia bahwa putrinya akan mendapat bantuan perawatan. Ia menyatakan rela dan berdoa untuk kesembuhan anaknya.
”Siapa yang tega sebetulnya pasung anak sendiri. Tapi da ibu mah suka deg degan, kalau dia ngamuk. Takut membahayakan. Sekarang saya mah sudah ikhlas Enung dibawa. Ini mungkin jawaban dari doa-doa saya. Mudah-mudahan anak saya cepet sembuh,” kata Erah.(Diskominfotik KBB)